Ibu, maafkan kami ;(

Lidah yang seperti pedang ini sering kali melukai hatimu.

Bibir kami yang pedasnya selalu menciptakan aliran air dimatamu.

Mata kami yang tajam sering kali memandang nanar dirimu.

Tangan kami yang tak ber-adab enggan menolongmu.

Kaki kami yang kotor sering kali berbalik dari hadapanmu.

Engkau sering kali membabu demi kami.

Engkau menyiapkan keistimewaan di dapur.

Yang ketika kami bangun, terpelongo . Kapan engkau kerjakan semua ini?

Engkau ingatkan kami atas kewajiban kepada Alloh.

Tapi sering kali engkau diabaikan.

Engkau menangis penuh harapan agar anak-anakmu sadar injakan kakinya atas izin Alloh.

Malamnya..

Engkau tidak bisa tidur, engkau kesakitan.

Kaki, tangan , kepala ..

Berdenyut beriringan..

Suara kesakitan itu bahkan mengetarkan malaikat untuk menolongmu.

Tapi bagaimana dengan kami?

Kami yang disampingmu menutup telinga..

Kami bahkan marah dan terganggu.

Tatkala kami marah, engkau pergi dan membiarkan kami tidur nyenyak.

Engkau meneteskan air suci dimatamu.

Disudut itu, ya disudut itu engkau memilih duduk lalu berdoa untuk kami.

Ketika kami pergi hingga tengah malam.

Engkau tak tidur.

Kaki dan matamu bolak-balik menuju depan rumah.

Menanti anak-anak kesayanganmu.

Engkau melihat di depan rumah anak remaja mengemudi motor dengan sangat kencangnya.

Lalu engkau berdoa :

“Ya Allah anakku dibumi mu, ampuni dia merusak tujuan Mu menciptakannya. Hamba yang salah ya Allah, hamba tak mendidiknya dengan baik, hukum saja hamba. Tak akan kubiarkan engkau memberikan rasa sakit sedikitpun pada anak-anakku. Karena mereka hartaku maka hukum aku bukan mereka. Perasaanku malam ini jauh, ku mohon dimanapun anak-anakku jauhkan dari maut yang menyakitkan. Jika malaikat israil mendekatinya maka dekatilah aku saja. Renggutlah nafasku yang sudah tua dan tak berguna ini.”

Namun sampai pagi kami tak kunjung pulang.

Kami tak ada mengabari hatimu yang gelisah.

Engkau tertidur dengan bahu tersandar di dinding dekat pintu itu.

Anginpun tak ingin mendinginkan tubuhmu.

Angin malam menjagamu dari rasa khawatir di pikiranmu.

Pintu itu berubah menjadi malaikat yang merubah kenyamananmu, bagaikan tidur di surga. 

Engkau tersenyum bangun mendengar suara azan di subuh hari. 

Engkau senang melihat pintu itu sedikit terbuka dan memperlihatkan sedikit bintang yang menyejukkan mata.

Engkau merasa kami telah pulang.

Engkau pun dengan semangatnya ke kamar kami.

Tapi matamu tak melihat kami di tempat tidur itu.

Dan akhirnya engkau baru ingat.

Engkaulah yang tak mengunci pintu itu karena lelahnya mata indahmu menahan malam yang kelam hingga tertidur.

Lagi-lagi engkau menangis dan berdoa di ujung subuh itu.

“Ya Allah berikan hidayahmu pada anak-anakku, lindungi mereka, tunjukan jalan pulang. Aku sendiri disini. Harus bagaimana aku? Bagaimana aku bertanggung jawab atas anak-anakku?”

Tibanya engkau menyiapkan sarapan untuk anak-anakmu, engkau merasakan angin dari jendela itu membawa kabar buruk untukmu.

Engkau meninggalkan kerjaan dan pergi keluar .

Engkau cari kami engkau tanya kepada orang disekitarmu . Dimana anakku?

Kakimu tak merasakan kasarnya batu dan panasnya pasir. 

Kakimu tak beralas, engkau tak peduli itu.

Akhirnya datang 2 orang pria mengatakan bahwa kami mengalami kecelakaan besar.

Kami koma dirumah sakit itu.

Kami kehilangan mata tajam kami. Jantung pendosa kami..

Saat malaikat mengizinkan kami untuk hidup. Ternyata engkaulah malaikatnya ibu.

Dengan bangganya kami bangun.

Tersenyum.

Lalu orang lain menyalami kami yang mana kurasakan basah di tangan mereka.

Mereka menangis.

Aku tak mengerti hingga kami tertawa dan berkata : kalian kenapa? aku hidup kok. malaikatkan takut sama aku. Hahaha

Orang lain pun menjawab :iya malaikat itu ibumu.

Apasih maksudnya? Arogan kami menanyakan itu.

Ya Allah ;(

Kutuklah kami..

Berikan maut yang teramat sakit pada kami…

Ibuku..

Untuk apa mata ini.. untuk apa jantung ini.

Ibu maafkan kami, kenapa engkau pergi ibu?

Kami tak pantas di dihidupkan.

Biarkan kami ibu, kami sudah buta dari awal engkau lahirkan.

Kami tak menggunakan mata ini untuk memandang malaikat yang teramat dekat denganku selama ini. 

Ibu maukah engkau maafkan kami.

Kenapa engkau ke surga duluan ibu.

Bagaimana dengam kami pendosa ini.

Siapa yang akan mendidik kami menjadi sepertimu.

Kami bodoh, kami tak pantas mendapatkan semua ini ;(

Setiap ucapanmu dari bibir yang tipis dan penuh harapan itu terabaikan.

Engkau menunduk.

Tapi kami. Ya Allah aku menyesal .

Hukum aku ambil nyawaku.

Tak sempat kami melihat wajah keibuannya.

Bahkan kami ingin mencium kakinya memohon maaf padanya.

Tapi..

Hanya bendukan tanah yang indah yang kulihat.

Papan yang bersinar dengan namamu.

Kami ingin tinggal disini ibu, dirumah barumu.

Tolong datanglah ibu.

Bangunkan kami ketika subuh, berikan kami sarapan yang istimewa lagi.

Kami rindu nasihat yang tak pernah kami dengar itu.

IBU MAAFKAN KAMI ;(

 Ibu kami tak pantas menjadi kesayanganmu, tak pantas mendapat perhatianmu, tak pantas dikhawatirkan olehmu, tak pantas engkau teteskan air mata sucimu karena dosaku dan tak pantas mendapat doa-doa terbaikmu. Bibir kami, lidah kami, tangan kami, kaki kami bahkan hati kami tak pernah kami berikan kebaikan padamu. Walaupun air mata kami membanjiri bumi tapi tak akan bisa mengembalikan lidahmu yang telah kelu.

Ibu maafkan kami yang tak bisa menjadi seperti yang engkau harapkan ;(.


Semoga kita selalu menyangi malaikat yang ada dirumah kita, ibu. Ya dia adalah ibu kita sendiri. Semoga kita selalu menghormatinya dan membanggakannya dalam keadaan apapun.

Sesuai dengan surah-surah Allah SWT:

 Dan Kami perintahkan kepada manusia  kepada dua orang ibu-bapanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Lukman: 14). 

Semoga ridhonya selalu menyertai kita. Amiiin ya Rabb πŸ˜‡

Iklan

7 pemikiran pada “Ibu, maafkan kami ;(

  1. Amin ya robbal aalamin, karena di kakimu lah surga kami, engkau juga sebagai penyempurna agama ayah kami, dan kau juga lah yang memasukan kakek kami kedalam surga. Terima lah maaf kami ibu, kaulah bidadari tanya sayap. Bagus bgt tulisannya hehe salam kenal,

    Suka

    1. Amiinn Ya Rabb πŸ˜‡
      Semoga kita selalu mendapatkan hidayah yang indah yaitu ridho dari ibu tersayang.
      Makasih , baru belajar saya nya πŸ™‚
      Salam kenal kembali .

      Suka

      1. hehe ya amin ya robbal alamin..
        ya sama” ,kita sama- sama belajar juga kok.
        semoga apa yg dipelajari selalu bisa memberi manfaat ke orang lain. amin yrballamin.
        hehe makasi udh mau kenalan πŸ™‚

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s