Merindukan cincinku

Segala sesuatu yang telah kita beli dengan usaha kita sendiri, sekecil apapun benda itu, semurah apapun benda itu, tapi itulah yang sangat kita sayang, kita jaga, kita bangakan“. 

Ya itulah yang terjadi padaku. 

Aku menabung kurang lebih 2 bulan dan itu semua dari hasil penjualan pulsa dan bisnis baju dengan kakak ku. Aku ingin sekali membeli sebuah benda, yaitu sebuah “cincin” . Setelah aku mengumpulkan uang yang cukup dan membelikan cicin untuk jariku yang tak bercahaya.

Aku pergi ke pasar dekat kost aku, sebut saja pasar “S” . Aku pergi untuk mencari dan membeli cincin yang ku inginkan dan aku lebih memilih toko-toko yang ada di pasar. Aku di temeni oleh teman kost aku yaitu Dewi. Tibanya aku dan Dewi di pasar, kami memilih 1 toko dengan penjual seorang bapak-bapak yang sudah tua. Aku memilih cincin yang amat aku sukai. Aku menyukai cincin yang ada matanya. Saat aku sudah punya pilihan, tiba-tiba ada seorang ibu yang berkata ” dek yang inilah cantik, warnanya cantik, mahal yang ini lagi “. Ibu itu menawarkan cincin yang di luar dari budget akunya, dan cincin itu tidak bermata. Akupun hanya memberikan jawaban dengan senyuman saja :). Aku tetap memilih yang pertama tadi, bermata membentuk bintang. Eh saat ingin bertanya sama pak penjual, si bapak gak pernah noleh ke akunya. Ibu-ibu mulu yang di respon. Aku nunggu sampai beberapa lama. Biasalah penjual lebih mendahulukan seseorang yang membawa keuntungan yang lebih banyak. Namun, aku dan Dewi pun nyerah nunggu disitu kayak orang gak jelas dan mengintai. Akhirnya kami memutuskan untuk cari toko ke 2.

Setelah menemukan toko 2, tidak jauh dari toko pertama. Aku memilih cincin yang bermata. Saat aku lihat pilihannya sangat sedikit. Walaupun tak secantik di toko pertama, cincin di toko ke 2 memberikan kenyamanan pada akunya. Kenapa? Karena budgetnya pas bahkan lebih sedikit heheh. Yang jual juga ramah dan ngerespon kepada siapapun yang ada di toko itu saat itu. Akhirnya selesai memilih cincin.

Setelah sampai di kost aku asyik memandangi cincin baruku hihihi menawan di jariku. Aku memakainya sekitar 4 bulan. 

Namun, setelah 4 bulan. Aku kehilangan cincinku 😦 . Padahal aku ingin menunjukan cincin ku kepada ibu ku :(. Dia pergi tanpa izin ku, dia hilang terseret air yang mengalir entah kemana. Huhuhuu.. dia hasil tabunganku. Saat kehilangannya aku memegang jariku, berharap dia tidak hilang. Aku tak menentu arah memikirkan secepat itu dia hilang, padahal aku jaga dia, aku rawat dia, dia aku sayang dan aku banggakan. Mungkin dia bukanlah rezeki ku ;(.

Iklan

11 pemikiran pada “Merindukan cincinku

  1. ya ampun.. 😦 sayang sekali cincin hasil tabungan hilang.
    saya dulu pertama dikasih cincin (sama mantan pacar – skrg suami) kegedean banget, terus sama ibuk dikasih hansaplast gitu mbak bagian belakangnya. hehe.

    Suka

    1. Ho’oh ;( masih kebawa mimpi tu cincin .
      Hihi saya juga gitu mbak si mamak ngasih benang kalau cincin saya kebesaran. Tapi kebesaran cincin mbak sih gak masalah niat mas (mantan pacar- sekarang suami) itu juga besar sih.. hihihi

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s